Direktur Utama BTN Maryono mengungkapkan, fasilitas KPR ini disiapkan bagi para pekerja sektor informal yang terhimpun dalam bentuk komunitas untuk membeli rumah baru, rumah bekas, hingga renovasi rumah.
"Nanti belinya berdasarkan komunitas. Misalnya komunitas pedagang bakso, pedagang martabak, dan lainnya, itu maksimal Rp75 juta," jelas Maryono di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rabu (25/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rumahnya nanti akan dibangun oleh Perumnas. Sekarang, kita gandeng Perumnas untuk cari harga lahan yang murah," imbuh Maryono.
Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan adanya program KPR mikro untuk sektor informal mulai tahun ini.
Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR Maurin Sitorus mengatakan, skema ini disebut sebagai bantuan pembiayaan perumahan berdasarkan tabungan. Di dalam skema ini, pemerintah akan membebaskan biaya uang muka, yang dipatok 30 persen dari harga rumah.
Adapun pemberian KPR mikro ini bertujuan untuk mempersempit jurang kepemilikan rumah bagi MBR sekaligus mempermudah sektor informal memperoleh KPR. Pasalnya, 60 persen pekerja yang ada di Indonesia bergerak di sektor informal.
Selain itu, program ini untuk mendukung penyediaan satu juta rumah unit rakyat yang kembali ditargetkan pada tahun ini. Adapun percepatan pembangunan 1 juta rumah sangat penting untuk memangkas kekurangan hunian atau backlog sekitar 20 persen dari total kekurangan hunian sebesar 13,3 juta unit. (gen)