Pasalnya layanan telekomunikasi yang menjadi bisnis utama Telkom dan anak usahanya PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), akan lebih luas menjangkau daerah pariwisata terpencil yang selama ini belum memiliki infrastruktur telekomunikasi dan internet.
“Saya berharap satelit T3S dapat memberikan manfaat yang siginifikan bagi masyarakat Indonesia, khususnya mendongkrak ekonomi melalui sektor pariwisata di 10 destinasi prioritas pariwisata Indonesia,” kata Arief, Selasa (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono menambahkan, peluncuran satelit T3S oleh Telkom yang akan dilakukan 15 Februari 2017 mendatang merupakan bagian dari upaya menegakkan kedaulatan digital Indonesia.
Kristiono menyebut saat ini Indonesia masih kekurangan sekitar 100 transponder satelit , baik komunikasi maupun penyiaran nasional. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut Indonesia harus menggunakan satelit asing. Alhasil, puluhan satelit asing beroperasi di Indonesia.
Permohonan hak labuh (landing right) satelit negara lain di Indonesia hingga semester I 2016 telah mencapai 31 unit. Angka ini telah meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan permohonan pada semester I 2015. Jumlah tersebut juga telah menyamai permohonan hak labuh satelit di Indonesia sepanjang 2015.
“Penyebabnya karena kita ini negara kepulauan yang sangat besar dan luas,” katanya.
Dijelaskannya, kehadiran satelit T3S akan membuat slot orbit 118° Bujur Timur yang ditempatinya menjadi optimal karena membawa transponder yang beroperasi di Standard C-Band, Extended C-band, Ku-band dan Extended Ku-band.
“Ini artinya semua spektrum di slot itu kita optimalkan. Kehadiran satelit T3S juga otomatis akan menambah kapasitas satelit domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap satelit asing,” kata pria yang kerap disapa Asa. (gen)