"Kami tidak bisa melihat (pemotongan pajak korporasi AS) berdampak langsung. Tetapi, kami tahu bahwa stabilitas sistem keuangan dan makroekonomi kita baik, sehingga kebijakan itu tidak akan berdampak ke Indonesia terlalu besar," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo saat ditemui di Kompleks BI, Jumat (10/2).
Sekadar mengingatkan, manuver fiskal pemerintah AS diyakini bakal segera terealisasi. Terutama, setelah Presiden AS Donald J. Trump baru-baru ini mengklaim akan membuat pengumuman besar terkait kebijakan pajak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus mengakui, insentif fiskal Trump bakal mendongkrak optimisme perbaikan ekonomi negeri Paman Sam. Hal ini kemudian berkembang dengan kekhawatiran meningkatnya risiko arus modal keluar yang membayangi negara-negara berkembang.
Kondisi cadangan devisa (cadev) per akhir Januari 2017 juga terjaga pada level Rp116,9 triliun, meskipun hanya naik tipis dari posisi akhir Desember 2015, yaitu Rp116,4 triliun.
Tidak hanya itu, lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service (Moody’s) juga memperbaiki Outlook Sovereign Credit Rating Republik Indonesia dari Stable menjadi Positive, sekaligus mengafirmasi rating pada Baa3 (Investment Grade) pada 8 Februari 2017 lalu.
Hasil pemeringkatan itu, lanjut Agus, membuktikan bahwa reformasi struktural demi memperkuat perekonomian Indonesia telah berada di jalur yang tepat.
Di sisi lain, BI bersama pemerintah terus berupaya menjaga kestabilan perekonomian tahun ini. Salah satunya, tetap menjaga tingkat inflasi sesuai dengan target BI 4 plus minus 1 persen. (bir/gen)