Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida menyebut dua tantangan pertama yang dihadapi anggotanya adalah kondisi pasar dan peraturan di industri tersebut yang semakin ketat.
“Perubahan perilaku konsumen dan perkembangan industri digital, menjadi dua tantangan berikutnya bagi industri pulp dan kertas. Terakhir terkait isu proteksionisme perdagangan,” kata Liana, Jumat (10/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sustainability, inovasi, serta efisiensi sumber daya harus dijalankan,” tutur Liana.
Proteksi Dagang
Khusus untuk proteksi dagang, Liana menyebut hambatan ini semakin menyeruak pasca terpilihnya Donald J. Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
“Adanya kecenderungan meningkatnya penerapan instrumen berupa tariff, trade remedies dan non-tariff barriers, regulasi kebijakan, dan sentimen negatif,” kata Liana.
Gandi Menambahkan, Sinar Mas merasakan betul dampak dari kampanye negative khususnya pada kasus kebakaran hutan dan lahan pada 2015. Serangan itu tidak hanya untuk produk kelapa sawit, tetapi juga pulp dan kertas.
“Perlu bantuan dari berbagai asosiasi untuk para duta besar kita sehingga kesalahpahaman bisa dijelaskan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan, produk industri kehutanan nasional yang bahan bakunya dipasok dari konsesi hutan tanaman industri (HTI) menyumbangkan devisa hingga US$10,7 miliar di tahun 2016. (gen)