Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, percepatan perlu dilakukan demi mengurangi impor cracker Indonesia sebagai bahan baku petrokimia.
Menurutnya, kapasitas cracker Indonesia sebesar 900 ribu ton per tahun tertinggal jauh dengan Singapura atau Thailand yang masing-masing sebesar 3,8 juta ton dan 5 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya, perusahaan petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia tersebut akan menggelontorkan dana sebesar US$6 miliar atau Rp80 triliun untuk peningkatan kapasitas produksi. Menurut Airlangga, perluasan investasi merupakan langkah strategis yang mampu mendorong percepatan pertumbuhan industri.
Bonus Investasi
Untuk mendukung percepatan realisasi tersebut, instansinya siap membantu Chandra Asri memperoleh insentif fiskal seperti tax allowance dan tax holiday. Asal, investasi itu siap dimulai pada tahun ini.
"Di samping itu, pemerintah bakal memberlakukan bea masuk safeguard apabila terjadi banjir impor produk sejenis akibat dumping dari negara asalnya. Kita harus bisa lebih berani, biar fair trade," tegas Airlangga.
Ia melanjutkan, seluruh hasil produksi itu akan dialokasikan ke pasar domestik. Pasalnya, Indonesia selalu kekurangan bahan baku berupa kedua produk tersebut.
"Misalnya, kebutuhan untuk ethylene tahun ini sebanyak 2 juta ton per tahun, sedangkan yang baru bisa dipenuhi dari dalam negeri sebanyak 860 ribu ton atau sekitar 40 persen," ungkapnya.
Chandra Asri optimis bisa memasok permintaan pasar lokal meski hanya satu-satunya perusahaan yang bisa memecah naphtha di Indonesia.
Sebab, fasilitas baru nanti diproyeksikan dapat menghasilkan sebanyak 1,8 juta ton per tahun, atau dua kali lipat dari kapasitas produksi saat ini sebesar 900 ribu ton per tahun.
"Sementara, kebutuhan dalam negeri diperkirakan sekitar 1,6 juta ton per tahun," jelas Suhat.