Malaysian Palm Oil Board merilis, stok pada Januari 2017 sebesar 1,54 juta ton karena ekspor yang melemah, turun dari 1,67 juta ton pada Desember 2016. Namun angka itu masih lebih tinggi daripada prediksi konsensus sebesar 1,49 juta ton.
Analis Mandiri Sekuritas Yudha Gautama menyatakan masih tetap menilai positif pada harga CPO sepanjang 2017 karena prospek permintaan yang membaik yang didukung oleh aktivitas re-stocking dan dorongan dari biodiesel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Yudha menetapkan kembali rekomendasi overweight pada sektor perkebunan karena prospek permintaan yang lebih baik, dengan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) menjadi pilihan utama.
Namun, ia mengestimasi koreksi harga dalam jangka waktu pendek karena pemulihan produksi (dimulai dari Maret 2017) sehingga memberi kesempatan investor untuk membeli karena harga kelapa sawit yang lebih rendah akan mendorong pembelian untuk restocking dan biodiesel.
“Saat ini kami sedang meninjau kembali asumsi harga CPO sepanjang 2017,” jelas Yudha.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan RI mengerek harga referensi produk CPO untuk penetapan Bea Keluar (BK) periode bulan Februari 2017. Meningkatnya harga referensi tersebut serta merta membuat BK CPO dinaikkan.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Dody Edward mengatakan harga referensi produk CPO bulan Februari 2017 dipatok sebesar US$815,52 per metrik ton, naik US$27,26 atau 3,46 persen dari periode bulan Januari 2017 yaitu US$788,26 per metrik ton.
“Saat ini, harga referensi CPO kembali mengalami peningkatan dan berada pada level di atas US$800. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK untuk CPO sebesar US$18 per metrik ton untuk periode Februari 2017,” ujarnya.