Dikutip dari Reuters, harapan pemangkasan pajak AS untuk memacu keuntungan korporasi dan investasi meningkatkan nilai tukar dolar dalam tiga pekan terakhir. Hal ini mengakibatkan pembelian minyak menggunakan denominasi dolar menjadi lebih mahal dibanding mata uang lainnya.
Di saat yang bersamaan, produksi migas non-konvensional AS pada bulan Maret diprediksi mencapai titik tertinggi dalam lima bulan terakhir seiring perusahaan migas memanfaatkan harga minyak yang melambung untuk memperbanyak produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, harga Brent berjangka LCOc1 melemah US$1,11 per barel ke angka US$55,59 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) CLc1 menurun US$0,93 per barel ke angka US$52,93 per barel.
Hal ini sudah terlihat sepanjang sebulan terakhir, di mana tingginya tingkat kepatuhan antar negara OPEC untuk membatasi produksi masih belum bisa membawa harga minyak melompat lebih jauh lagi.
Sebelumnya, OPEC dan beberapa negara non-OPEC sepakat untuk mengurangi produksi hampir sebesar 1,8 juta barel per hari sepanjang paruh pertama tahun 2017 demi mendukung kenaikan harga dan mengurangi suplai berlebih.
Namun, tingginya realisasi OPEC di bulan pertama masih belum bisa memuaskan investor. Beberapa spekulan menahan 100 ribu kontrak penjualan minyak pada pekan lalu seiring kekhawatiran meningkatnya kembali produksi minyak AS. (gen)