Seperti diketahui, Janet Yellen dijadwalkan menggelar pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 14 Februari waktu AS atau 15 Februari dini hari waktu Indonesia.
Di awal tahun ini, The Fed dipercaya tak gegabah karena masih menunggu realisasi rencana kebijakan Presiden AS yang baru, Donald Trump. The Fed diyakini bakal menaikkan suku bunga dari 0,75 persen ke 1,00 persen paling cepat selama pertemuan FOMC Mei mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Direktur Investasi Saran Mandiri Hans Kwee memprediksi The Fed masih tetap berhati-hati dalam mengambil kebijakannya. Pasalnya, para petinggi The Fed masih harus beradaptasi dengan kebijakan Donald Trump yang cenderung proteksionis ke depannya.
Hans menilai, kondisi perekonomian global masih dipenuhi oleh ketidakpastian. Tak hanya berasal dari AS, risiko pasar keuangan dunia juga meningkat akibat rencana pemilihan umum kepala negara di beberapa negara Eropa seperti Perancis dan Italia.
"Skotlandia juga mau referendum memisahkan diri dari Inggris, jadi harus menunggu suatu yang pasti untuk menaikan suku bunga," jelas Hans.
Hans sendiri memprediksi, kenaikan Fed Rate akan terjadi sebanyak tiga kali dalam tahun ini dengan total hingga 75 basis poin.