"Aksi jual investor asing merespon ketidakpastian kenaikan Fed Fund Rate, situasi itu juga memengaruhi bursa saham di kawasan Asia," ujarnya yang juga Analis Binaartha Sekuritas tersebut, mengutip Antara, Jumat (17/2).
Ia mengatakan bahwa antisipasi sejumlah data ekonomi dari AS yang akan diumumkan dan kebijakan-kebijakan dari Presiden AS Donald Trump memengaruhi investor. Situasi yang belum pasti membuat investor, terutama asing, cukup hati-hati masuk ke pasar negara-negara berkembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Situasi itu menandakan perbaikan perekonomian dunia dan Indonesia," katanya.
Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan kuartal keempat tahun lalu sebesar US$1,8 miliar (0,8 persen dari PDB) atau lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, yaitu sebesar US$4,7 miliar (1,9 persen dari PDB).
Terkait pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta, Reza menuturkan, tidak akan banyak memengaruhi pasar saham domestik dan bukan menjadi sentimen utama.
Sementara itu, Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan bilang, persentase kepemilikan investor asing di pasar saham domestik cenderung berkurang, hal itu dikarenakan meningkatnya jumlah investor domestik.
"Memang, kalau dilihat angka kepemilikan dana investor asing sedikit menurun. Itu justru luar biasa karena kepemilikan investor lokal naik seiring dengan bertambahnya jumlah investor. Saya melihat investor lokal semakin aktif mengakumulasi dan bertransaksi di saham pasar modal domestik," tutur Nicky.
Berdasarkan data BEI, sejak awal tahun hingga 17 Februari 2017, investor asing membukukan jual bersih atau foreign net sell sebesar Rp900,8 miliar.
Sementara, berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), kepemilikan saham investor asing per Januari 2017 sebanyak Rp1.682,839 triliun atau sekitar 54,01 persen dari total nilai aset saham.
"Pada awal tahun lalu, persentase kepemilikan investor asing mencapai sekitar 64 persen," paparnya.