Namun untuk urusan belanja, kegiatan masyarakat untuk hal satu ini dinilai akan semakin meningkat. Wakil Ketua Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, pada dasarnya masyarakat yang menjadi korban banjir akan menjadi lebih antisipatif atau cepat tanggap terhadap lingkungan sekitar, termasuk mengenai kebutuhan logistik.
Hal ini juga membuat para pengusaha ritel seperti pasar swalayan hingga toko serba ada berlomba-lomba meningkatkan pasokan barang. Produk seperti mie instan, makanan kaleng, air mineral dalam kemasan, dan obat-obatan menjadi barang yang diprediksi bakal laris diborong oleh masyarakat saat menghadapi musim banjir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilustrasi warga Jakarta berbelanja di supermarket saat banjir. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra) |
"Kalau orang yang kebetulan mampu mereka akan usaha bela-belain keluar misalnya naik perahu karet untuk beli makanan, namun ada juga masyarakat yang mengandalkan bantuan dari orang atau pemerintah karena memang sudah terisolir tidak bisa kemana-mana lagi," jelasnya.
Menurutnya, bencana banjir yang melanda wilayah Jabodetabek merupakan langganan bagi para pengusaha ritel. Kerugian materi yang ditimbulkan pun menurutnya sudah tidak bisa dihitung.
"Kami tetap terganggu dengan banjir, namun ini kan sudah fenomena alam, kita masih bersyukur sistem distribusi kita masih baik sehingga tidak secara total melumpuhkan aktivitas ekonomi," katanya.
Ilustrasi warga Jakarta berbelanja di supermarket saat banjir. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)