Dikutip dari Reuters, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo menuturkan, realisasi pemangkasan produksi mencapai 90 persen sesuai data OPEC pada bulan Januari silam. Diharapkan, persediaan minyak bisa berkurang lebih jauh pada tahun ini.
Kendati demikian, Barkindo mengatakan bahwa saat ini terlalu dini untuk memutuskan perpanjangan periode pemangkasan produksi. Keputusan tersebut, lanjutnya, akan ditentukan saat pertemuan OPEC bulan Mei mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, perkumpulan kartel minyak beserta produsen lain setuju untuk mengurangi produksi minyak sebesar 1,8 juta barel per hari demi meningkatkan kembali harga setelah terpuruk selama dua tahun akibat persediaan yang melimpah.
Hasilnya, harga minyak Brent berjangka ditutup menguat US$0,48 ke angka US$56,66 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat US$0,66 ke angka US$54,06 per barel.
Indeks harga minyak mentah dunia telah bergerak US$5 per barel semenjak pengumuman OPEC pada November lalu. Namun, pemangkasan produksi ini dianggap hanya memicu langkah spekulasi pelaku pasar. Sehingga, harga bisa saja terkoreksi jika sudah berada pada titik atas rentang yang seharusnya.
Selain itu, Bank of America Merrill Lynch juga memangkas prediksi harga Brent dari US$50 per barel hingga US$70 per barel menjadi US$55 per barel hingga US$75 per barel hingga 2022 mendatang. (gir)