Pada 2015 lalu perusahaan Grup Bakrie tersebut melakukan eksplorasi untuk Block R2 dan Block 13 di Yaman untuk mencari potensi hidrokarbon di blok migas tersebut.
Namun akibat adanya perang dan kudeta militer yang meletus, negara yang kaya dengan cadangan minyak itu terpaksa harus kehilangan pemerintahan. Keadaan tersebut memberikan ketidakpastian investasi bagi Bumi Resources dan anak usahanya itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak 2016 kemarin, menurut Ari, Bumi Resources telah mengajukan surat pernyataan untuk berhenti eksplorasi ke Pemerintahan Yaman, namun hingga kini nasib permohonan undur diri tersebut masih menggantung.
Sejak diakuisisi pada tahun 2000 lalu, Bumi Resources memiliki 100 persen kepemilikan langsung di Gallo. Namun, ladang migas tersebut belum juga mencapai skala produksi yang diharapkan sejak diakuisisi.
Guna mengeksplorasi Blok R2, Gallo telah mengajukan ke Kementerian Sumber Daya Minyak dan Mineral Republik Yaman untuk perpanjangan izin selama 12 bulan hingga 13 Februari 2015. Untuk Blok 13, Gallo telah mendapat perpanjangan dua tahun hingga 14 Mei 2016.
"Masuk ke sana kami mulai drilling itu 2002, terakhir kami menemukan cadangan cukup menarik, tapi ya terjadi perang. Kami temukan cadangan gas cukup besar, tapi ya bagaimana cara mengambilnya?" pungkas Ari. (gir/gen)