Luhut menjelaskan, tambang Grasberg bukanlah tambang baru (greenfield) melainkan tambang yang sudah dikelola lama (brownfield).
"Ah, sangat sanggup lah. (Grasberg) itu kan bukan greenfield. Sangat sanggup," tutur Luhut saat ditemui di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jumat (24/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, pemerintah dan Freeport masih mencari jalan tengah soal status Kontrak Karya (KK) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI.
Pemerintah memberikan masa waktu untuk PTFI memikirkan berbagai opsi yang ditawarkan pemerintah selama enam bulan sejak izin ekspor diberikan, yakni sejak Jumat lalu (17/2), sembari menyesuaikan aturan dengan Undang-undang yang ada.
Sebagai informasi, produksi tambang Grasberg yang dikelola Freeport Indonesia mencapai 482,16 ribu metrik ton yang dikutip dari keterbukaan Freeport-McMoran Inc. Angka ini mengambil 2,48 persen produksi tembaga dunia tahun lalu.
Jika digabung dengan jumlah produksi tembaga Amerika Serikat, maka produksi PTFI yang dikeruk dari tanah Papua menyumbang 34,19 persen dari total produksi negara Donald Trump. (gir)