Direktur Utama Aneka Tambang Tedy Badrujaman menjelaskan, kinerja positif ini juga terlihat dari laba usaha sebesar Rp8,15 miliar. Sementara, pada tahun 2015 lalu Aneka Tambang masih membukukan rugi usaha sebesar Rp701,43 miliar.
"Dengan optimalnya operasi pabrik-pabrik feronikel Aneka Tambang, volume produksi dan penjualan feronikel tahun 2016 tertinggi sepanjang perusahaan sehingga mampu mendukung pemenuhan permintaan konsumen yang tinggi," ungap Tedy melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Kamis (2/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, perusahaan juga berhasil melakukan efisiensi mencapai Rp48,7 miliar. Angka tersebut lebih tinggi 33,79 persen dari target efisiensi perusahaan sebesar Rp36,4 miliar.
Khusus untuk emas, perusahaan menargetkan dapat memproduksi 2.270 kilogram (kg) dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung. Target tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan produksi 2016 yakni, 2.209 kg.
"Dengan estimasi peningkatan produksi dan penjualan di tahun 2017, outlook harga komoditas yang positif serta selesainya proyek-proyek hilirisasi dalam satu hingga dua tahun kedepan, Aneka Tambang memiliki masa depan yang solid untuk memberikan imbal hasil yang baik kepada pemangku kepentingan," jelas Tedy.
Analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan menyatakan, pencapaian kinerja Aneka Tambang tahun 2016 berada diatas estimasi konsensus kerugian bersih sebesar Rp128 miliar.
"Hal ini dikontribusi dari Rp478 miliar pendapatan lain-lain, dibanding pengeluaran lain-lain pada 2015 Rp298 miliar, yang kami kira kebanyakan datang dari tidak realisasinya pendapatan forex dari pinjaman US$530 juta pada periode per September 2016," papar Ariyanto. (gir)