Berdasarkan APBN 2017, alokasi anggaran untuk TKDD mencapai Rp764,9 triliun. Alokasi TKDD tahun ini meningkat drastis bila dibandingkan realisasi TKDD APBN Perubahan 2016 yang sebesar Rp710,9 triliun. Bahkan, alokasi TKDD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir dua kali lipat, yakni dari Rp480 triliun menjadi Rp764,9 triliun.
"Alokasi TKDD Rp764,9 triliun ini mungkin lebih tinggi Rp1 triliun dari K/L karena memang tanggungjawab daerah semakin besar, mereka harus melayani langsung kepada masyarakat," tutur Sri Mulyani dalam Sosialisasi TKDD di kantornya, Kamis (2/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu mencatat selisih lebih perhitungan anggaran (SiLPA) sebesar Rp85 triliun yang tak digunakan untuk belanja pemerintah. Padahal, untuk menutup proyeksi belanja pemerintah, baik yang berasal dari TKDD dan belanja K/L, pemerintah telah mencari sumber-sumber dana lewat berbagai cara, termasuk menerbitkan surat utang atau obligasi.
"Tahun ini, kami defisit 2,41 persen, lebih dari Rp300 triliun. Pemerintah sudah menerbitkan surat utang Rp300 triliun dengan bunga, tetapi Rp85 triliun tidak terpakai karena ada di dalam SiLPA. Seharusnya, kami bisa mengurangi beban yang tidak perlu," tekan Sri Mulyani.
Oleh karenanya, Sri Mulyani menekankan kepada pemda agar benar-benar menghitung dengan matang proyeksi anggaran. Toh, seluruh transfer daerah tujuannya untuk mengentaskan kemiskinan, baik dari sisi biaya pendidikan, dana kesehatan, perbaikan infrastruktur mendasar.
Sebagai informasi, dalam APBN 2017, pemerintah menargetkan belanja pemerintah, baik dari pusat dan daerah mencapai Rp2.080 triliun dengan target penerimaan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp1.750 triliun. (bir/gen)