Analis Reliance Securities Lanjar Nafi menjelaskan, IHSG juga akan bergantung pada data produk domestik bruto (PDB) di Eropa dan China. Tak hanya itu, IHSG juga diwarnai oleh data ekonomi dunia lainnya seperti neraca perdagangan di China.
"Data inflasi, neraca perdagangan dan komposisi pertumbuhan impor dan ekspor di China berpengaruh kuat hari ini,” ungkap Lanjar, dikutip Senin (6/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, IHSG hanya menguat tipis 0,1 persen sepanjang pekan lalu ke level 5.391. Penguatan tersebut menurutnya dipengaruhi oleh penantian pelaku pasar atas pidato Presiden Donald Trump di kongres Amerika Serikat (AS) pada awal pekan lalu, kenaikan suku bunga The Fed, dan hasil survei indeks kinerja purchasing managers index (PMI) di China.
Reza menjelaskan, pemberitaan terkait laba yang diperoleh oleh 118 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang meningkat sebesar 10,1 persen dan realisasi penerimaan bea dan cukai per 28 Februari belum mampu mendorong IHSG berada di teritori positif pada akhir pekan lalu.
"IHSG dapat melanjutkan pelemahannya jika tidak ada sentimen positif yang mampu membuat IHSG berbalik arah," terang Reza.
Untuk itu, ia berharap pelaku pasar memanfaatkan momentum pelemahan ini dengan masuk kembali masuk ke pasar modal. Ia memprediksi IHSG berada dalam rentang support 5.369-5.380 dan resisten 5.406-5.421. (gen)