"Growth (pertumbuhan ekonomi) sedang turun, tetapi target pajak dinaikkan luar biasa," tutur Faisal pada acara 'Indonesia's Economic Outlook 2017' RSM Indonesia di The Energy Building, Selasa (7/3).
Pada 2015 lalu, target perpajakan dinaikkan menjadi 30 persen dari realisasi tahun 2014 menjadi Rp1.489 triliun dalam APBN-P 2015. Padahal, dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran lima persen dan inflasi tiga persen, pertumbuhan alami penerimaan perpajakan hanya ada di kisaran delapan persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun berikutnya (2016) diulang lagi keugal-ugalannya dengan memasang target pajak tinggi tumbuh 24 persen," katanya.
"Kalau dikurangi penerimaan tax amnesty, penerimaan perpajakan tahun lalu hanya Rp1.181 triliun atau turun empat persen. Pajak turun di tengah ekonomi tumbuh positif dan ada inflasi. Parah," imbuh Faisal.
Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas ini menilai, pemerintahan Jokowi seharusnya tidak dijalankan dengan prinsip 'pokoke' untuk memenuhi syahwat pembangunan infrastruktur tanpa melihat kondisi realistis di lapangan.
Karenanya, Faisal berharap, orang-orang di sekitar Jokowi tidak menjadi 'yes man' yang sekadar mengikuti keinginan presiden. Namun, mereka harus bisa memberikan masukan dan pertimbangan yang realistis agar Jokowi bisa mengambil keputusan yang lebih baik dalam kepemimpinannya ke depan. (bir)