Dikutip dari Reuters, Menteri Minyak Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan, kesepakatan antara organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan non-OPEC dalam membatasi produksi telah membantu keseimbangan baru bagi permintaan dan penawaran di pasar minyak dunia.
Kendati demikian, Falih mengatakan bahwa itu terjadi karena Arab Saudi memangkas produksi lebih besar dari angka yang dijanjikan sebelumnya. Akibatnya, produksi minyak Arab Saudi berada di bawah 10 juta barel per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, harga minyak mengalami tekanan setelah produksi minyak non-konvensional AS melonjak pasca harga minyak West Texas Intermediate menyentuh angka US$50 per barel.
Hasilnya, harga minyak Brent berjangka melemah US$0,09 ke angka US$55,92 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI menurun US$0,06 ke angka US$53,14 per barel.
Harga minyak kembali melemah 0,7 persen pasca perdagangan setelah American Petroleum Association (API) melaporkan bahwa persediaan minyak AS pada pekan lalu mencapai 11,6 juta barel, atau lima kali lipat dibanding perkiraan analis.
Jika kenaikan produksi ini dikonfirmasi EIA AS, maka kenaikan ini akan terjadi selama sembilan pekan berturut-turut. (gir)