Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mencatat dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan sektor perikanan selalu berada di atas pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional. Tahun lalu misalnya, sektor perikanan masih mampu tumbuh 5,1 persen.
Namun pertumbuhan sektor tersebut belum signifikan mengurangi tingkat kemiskinan para nelayan yang bergelut didalamnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2014, Papua Barat merupakan wilayah dengan proporsi rumah tangga perikanan terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 20 persen. Pada periode yang sama, tingkat kemiskinannya mencapai 26,3 persen.
“Masih banyak nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan. Itulah mengapa pemerintah perlu menggalakkan Poros Maritim,” tegasnya.
Arif memaparkan, pada dasarnya sektor kelautan tidak bisa berdiri sendiri, karena terhubung dengan sejumlah sektor ekonomi yang ada di darat, misalnya pasar yang menyerap hasil tangkapan ikan para nelayan.
“Jadi strategi pengembangan industri kelautan harus dilihat secara menyeluruh, tidak terpisah antara lain dan alur logistik,” tegasnya.
Cara yang dapat ditempuh pemerintah adalah melalui percepatan program industrialisasi perikanan berbasis konsep supply chain, value chain dan menguatkan pemasaran serta branding di pasar domestik dan global.
Kedua, percepatan juga harus dilakukan melalui pola kemitraan. Misalnya, antara nelayan dan pembudidaya, pelaku usaha mapan dengan nelayan, serta didukung dengan fasilitas pembiayaan yang efisien.
“Ketiga, perlu menciptakan model bisnis industri perikanan yang berbasis komoditas terpilih dan nilai tambah, serta terintegrasi,” jelasnya.
Strategi ini melibatkan nelayan sebagai pelaku. Ia mengingatkan, jangan sampai nelayan justru tidak dapat menikmati pengembangan sektor perikanan.
“Kalau seperti itu, kebijakannya perlu ada yang perlu dikoreksi,” ujar Arif. (gen)