Direktur Utama AirNav Novie Riyanto mengungkapkan, target ini sudah tercatat dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2017 dan akan banyak disumbang dari tarif navigasi penerbangan. Namun, ia tak merinci jenis penerbangan mana yang dapat berkontribusi besar terhadap pendapatan tersebut.
Melihat pengalaman tahun lalu, sebanyak 75 persen pendapatan perusahaan berasal dari jasa navigasi penerbangan internasional dan penerbangan yang tidak singgah ke tempat transit yang semula direncanakan (over flying).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati pendapatannya dipatok tumbuh positif, Airnav cuma menargetkan laba Rp197 miliar atau lebih rendah 52,78 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp418 miliar.
Berangkat dari hal tersebut, menurutnya, Kementerian Perhubungan tak mau laba AirNav terlampau tinggi. Jika laba AirNav terlalu tinggi, Kemenhub mengancam akan mengubah bentuk usaha Airnav menjadi Badan Layanan Umum (BLU).
"Makanya, kami tak pernah memasang target laba setiap tahunnya, karena kami tidak berorientasi profit. Murni demi keselamatan penerbangan. Oleh karenanya, kami juga tidak diwajibkan membayar dividen ke pemerintah," terang Novie.
Untuk menunjang pendapatan, perusahaan berencana untuk menggelontorkan belanja modal (capital exenditure) sebesar Rp2,14 triliun untuk tahun ini. Sebagian besar pengeluaran akan digunakan untuk mengganti menara Air Traffic Control (ATC) di Jakarta melalui program Indonesia Modernisation Air Navigation Services (IMANS).
"Jika pengerjaan IMANS ini selesai, maka ATC bisa digunakan untuk mengelola Indonesia bagian barat. Untuk program ini, kami menganggarkan Rp800 miliar atau 37,38 persen dari belanja modal. Ini merupakan langkah lanjutan kami, karena kan Makasar sudah kami upgrade tahun lalu," pungkasnya. (bir/gen)