Seperti diketahui, pencairan kredit korporasi yang cukup tinggi terjadi pada kuartal terakhir tahun 2016. Hal itu disebabkan oleh siklus peningkatan permintaan kredit pada akhir tahun khususnya untuk segmen infrastruktur.
Direktur Corporate Banking BCA Rudy Susanto mengatakan, perseroan akan berpartisipasi dalam kerja sama kredit atau sindikasi dengan nilai sekitar Rp12 triliun untuk pembangunan proyek kelistrikan yang dikerjakan PT PLN (Persero) pada 2017.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Total ada tujuh peserta (sindikasi), di dalamnya ada empat bank, dan perusahaan pembiayaan infrastruktur lainnya," ujar Rudy, Senin (14/3).
Dia mengatakan BCA memang tahun ini ingin menggenjot kredit infrastruktur, namun tetap dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kredit infrastruktur diharapkan BCA dapat mendongkrak portofolio kredit segmen korporasi.
Pertumbuhan kredit itu menopang pendapatan bunga bersih BCA yang selanjutnya mengerek naik laba BCA yang menjadi Rp20,6 triliun.
"Permintaan kredit infrastruktur sudah ada. Kita ingin lihat dulu permintaan itu seperti apa uji kelayakan proyeknya, karena kredit infrastruktur ini jangka panjang kan," ujar dia.
"Kami cukup dari Dana Pihak Ketiga (DPK)," ujar dia.
Di samping kredit korporasi, kredit konsumer juga mengalami pertumbuhan 9 persen menjadi Rp109,6 triliun yang didorong oleh produk-produk kredit konsumer yang kompetitif, seperti kredit pemilikan rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan bermotor (KKB). KPR tercatat tumbuh 7,6 persen menjadi Rp64 triliun, sementara KKB naik 10,1 persen menjadi Rp34,8 triliun.
“Outstanding kartu kredit meningkat 13,7 persen menjadi Rp10,8 triliun. Dan untuk kredit komersial dan UKM 3,8 persen menjadi Rp151,9 triliun,” paparnya.