"Implementasi nota kesepahaman ini diharapkan dapat membantu perusahaan-perusahaan Korea Selatan (Korsel) maupun Indonesia dalam mengembangkan usahanya," tutur Thomas dalam sambutannya pada acara Indonesia-Korea Business Summit.
Menurut Thomas, sama halnya dengan perdagangan, investasi juga merupakan hubungan resiprokal. Karenanya, masing-masing pihak harus terlibat dalam mengembangkan investasi di kedua negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Promosi investasi utamanya menyasar sektor-sektor unggulan bagi Indonesia dan Korsel seperti konstruksi dan infrastruktur, manufaktur, gaya hidup, pariwisata, konektivitas, teknologi informasi, e-commerce dan ekonomi kreatif.
"Umpamanya ada perusahaan kita yang ingin investasi di Korsel, mereka juga harus dilindungi atau dibantu," ujarnya.
Sebagai informasi, Korsel merupakan investor terbesar ketiga yang masuk ke Indonesia setelah Singapura dan Jepang. Selama periode 2012-2016, investasi dari perusahaan Korsel mencapai US$7,5 miliar untuk 7.607 proyek.
Korsel juga tercatat sebagai salah satu mitra dagang terbesar Indonesia dengan volume perdagangan mencapai US$16 miliar pada tahun 2015.
Acara yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo ini, dihadiri oleh lebih dari 500 peserta diantaranya petinggi perusahaan papan atas asal Negeri Ginseng (chaebol) seperti Chairman CJ Group Sohn Kyung-Shik, President of Hyundai Motor Group Chung Jin Haeng, President Director Samsung JK Shin, Chairman SM Entertainment Lee Sooman dan Presiden Posco Kwon Ohjoon.
Turut hadir sebagai narasumber antara lain Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf. Acara ini juga dihadiri oleh boyband Super Junior Leeteuk.