"Presiden sangat menekankan skenario apapun, semuanya membutuhkan investasi yang lebih besar. Jadi, growth (pertumbuhan) dari investasi harus di atas 8 persen tahun ke tahun," kata Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, mengutip Antara, Rabu (15/3).
Ia mengungkapkan, pertumbuhan investasi saat ini berada di kisaran enam persen. Maka, menurut dia, untuk bisa mencapai 8 persen, maka tidak mungkin hanya memompa dari defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saja, tetapi paling penting dari sektor swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, untuk inflasinya sendiri tetap dengan asumsinya adalah antara 4,5 plus minus 1 dengan nilai tukar rupiah sebesar Rp13.300-13.000 atau maksimal Rp13.900 per dolar AS.
Sri Mulyani menambahkan, dari sisi defisit APBN akan diberikan rambu-rambu pada kisaran 2 - 2,2 persen, sehingga diharapkan masih dapat terkendali dengan baik.
"Bahkan pemerintah dalam hal ini tidak hanya memperhatikan defisit total, tetapi juga saya sampaikan, primary balance-nya juga diharapkan bisa lebih turun ke 0,5. Jadi, ini adalah sesuatu yang harus kita kombinasikan antara penerimaan negara harus tumbuh, tax ratio harus tumbuh jadi 11 persen, dan belanjanya harus semakin terfokus pada hal-hal produktif," imbuh dia.