Dari bursa global, Kepala Riset First Asia Capital David Sutyanto menjelaskan, bursa saham Wall Street tadi malam berakhir di teritori negatif karena beberapa data ekonomi yang kurang baik. Di mana indeks ISM Manufacturing PMI bulan lalu berada di 57,2 atau dibawah bulan sebelumnya 57,7. Selain itu, penjualan otomotif juga tidak sesuai ekspektasi yakni, 16,62 juta unit. Sementara, ekonom memperkirakan penjualan otomotif dapat menyentuh 17,4 juta.
Dengan demikian, Dow Jones turun 0,06 persen ke level 20.650,21, kemudian S&P500 terkoreksi 0,16 persen ke level 2.358,84, dan Nasdaq melemah 0,29 persen ke level 5.894,68.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, berbeda dengan apa yang terjadi pada saham Wall Street tadi malam. IHSG kemarin berhasil bangkit (rebound) setelah melemah pada akhir pekan lalu sebesar 38,68 poin (0,7 persen) ke level 5.606.
"Pemodal asing kemarin mencatatkan pembelian bersih hingga Rp438,48 miliar," imbuh David.
Dengan begitu, David memprediksi penguatan lanjutan terjadi pada perdagangan hari ini. Di mana, pelaku pasar juga optimis dengan laporan keuangan kuartal pertama, khususnya untuk emiten yang bergerak dalam sektor tambang batu bara.
Sependapat dengan David, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang juga memprediksi IHSG bergerak di teritori positif hari ini. Hal tersebut didukung oleh pembelian sejumlah saham emiten berbasiskan batu bara merespons penguatan harga batu bara.
"Fokus perdagangan Selasa, buy saham sektor batu bara menyusul tajamnya kenaikan batu bara," terang Edwin dalam risetnya.
Ia menerangkan, harga batu bara Newcastle naik hingga 6,15 persen dan batu bara Rotterdam menguat 5,71 persen.
Sehingga, IHSG diprediksi berada dalam rentang support 5.571 dan resisten 5.659. Sementara, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak dalam rentang Rp13.240-Rp13.375.