Pasalnya, transaksi jual-beli atau penyediaan layanan tanpa mendirikan fisik toko secara konvensional tentu tidak membutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM) yang bekerja.
Dengan naiknya angka pengangguran, maka secara otomatis akan semakin meningkatkan ketimpangan antara masyarakat kelas menengah atas dan kelas menengah bawah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan ketimpangan yang bisa terlihat nyata saat ini adalah dari sisi pasar modal yang dibandingkannya dengan kegiatan ekonomi di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Di mana belakangan ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang berada dalam tren kenaikan (bullish) dan tak berhenti mencetak rekor baru.
"Penjual Pasar Tanah Abang mengeluh market-nya turun. Banyak yang merasa penjualannya tidak sebaik tahun sebelumnya. Sementara bursa mencetak rekor. Jadi kalau bicara ketimpangan ini salah satu ketimpangan yang nyata," terang dia.
"Terjadi akumulasi aset kapital kepada penguasa kapital itu sendiri. Semakin lama semakin besar sehingga yang terbagi dalam jumlah yang besar otomatis semakin besar. Ini sebuah keniscayaan," kata Chairul.
Sebagai gambaran, angka ketimpangan (gini ratio) per September 2016 tercatat turun menjadi 0,394. Sementara, gini ratio pada Maret 2016 berada di angka 0,397 dan September 2015 0,402.
Untuk itu, ia meminta masyarakat Indonesia untuk tidak berpuas diri merasa produktif dan efisien dalam bekerja. Namun diharapkan bisa membekali diri dengan kreativitas, inovatif, dan menumbuhkan jiwa wirausahanya.
"Itulah yang bisa mengalahkan robot dan komputer, bisa mengalahkan teknologi. SDM dengan ketiga hal itu akan mampu menciptakan teknologi, dan otomatis mengalahkan robot itu sendiri," tutupnya.