Sementara itu, harga ICP SLC/Minas pada bulan Maret tercatat US$49,62 per barel, atau turun US$3,74 per barel dibanding bulan sebelumnya aebesar US$53,36 per barel.
Dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, harga ICP yang turun disebabkan karena dua indeks harga minyak pembentuk ICP, yaitu Brent dan West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anjloknya harga minyak mentah pada bulan lalu disebabkan oleh peningkatan produksi minyak dunia. Berdasarkan publikasi International Energy Agency (IEA) Maret lalu, terdapat peningkatan rata-rata produksi harian sebesar 0,26 juta barel ke angka 96,52 juta barel per hari di bulan Februari lalu.
Lebih lanjut, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan, rata-rata produksi minyak mentah Amerika Serikat pada bulan Maret tercatat 534 juta barel. Angka ini lebih banyak 13,8 juta barel dibanding persediaan di bulan sebelumnya sebesar 520,2 juta barel.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan, tren harga minyak dunia diperkirakan akan terus menurun. Jika kondisi tersebut bisa bertahan, maka harga Bahan Bakar Minyak (BBM) penugasan jenis Premium dan Solar juga tidak akan berubah dalam beberapa periode mendatang.
Sebelumnya, berdasarkan simulasi Pertamina, perusahaan minyak pelat merah itu bisa mengalami defisit berjualan Premium sebesar Rp601 miliar dan defisit Rp3,45 triliun dalam menjual Solar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
"Memang sekarang Pertamina ada minus dalam tiga bulan pertama. Namun, jika tren harga minyak menurun terus, Pertamina tak perlu mengalami minus," papar Wiratmaja, kemarin.