"Memang, belum banyak, tapi kita lihat, mudah-mudahan di kisaran lima persen," kata Bambang mengutip Antara usai menghadiri "Regional Workshop on Country Safeguard System bersama Asian Development Bank" (ADB) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Senin (10/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indikator lain, yakni laju pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang hingga Maret 2017 menunjukkan inflasi di 3,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Bahkan, terjadi deflasi 0,02 persen (month to month/mtm) pada Maret 2017.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I ini memang belum sesuai ekspetasi. Kajian BI pada akhir Februari 2017, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama ini diperkirakan lebih rendah dari 5,05 persen (yoy).
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityawara menerangkan, pergerakan ekonomi yang belum kencang, juga terlihat dari penyaluran kredit perbankan yang tumbuh minus 0,7 persen dari Januari hingga Maret 2017. Angka minus tersebut berarti penyaluran kredit melambat.
"Tetapi, itu memang pola kuartal I yang selalu lebih rendah. Biasanya, kegiatan ekonomi baru mulai kelihatan pada kuartal II dan meningkat lagi pada kuartal III dan IV," katanya.
Pemerintah, sesuai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, menargetkan ekonomi dapat tumbuh 5,1 persen (yoy) pada tahun ini, setelah tumbuh 5,02 persen (yoy) pada 2016. Sementara, BI memasang target pertumbuhan ekonomi berada di rentang 5-5,4 persen (yoy).