"Enam poin dari penandatanganan MoU antara IDB dan PT SMI, salah satunya sebagai explore fund untuk menarik minat SWF agar mereka tertarik dan berinvestasi," ujarnya dalam jumpa pers acara IDB Sovereign Investment Forum ke-3 2017 di Nusa Dua, Bali, mengutip Antara, Selasa (11/4).
Sebelumnya, penandatanganan nota kesepahaman antara IDB dengan SMI dimaksudkan untuk kebutuhan infrastruktur. Sri Mulyani bilang, prioritas pemanfaatan dana pinjaman juga diberikan untuk co-financing project dalam bentuk pinjaman, co-investment dalam bentuk ekuitas, pembiayaan untuk SMI, dan bantuan teknis dan pembangunan kapasitas untuk Unit Usaha Syariah SMI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memastikan, dana pinjaman IDB akan saling melengkapi dengan pinjaman dari Bank Dunia serta Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) dengan total US$200 juta untuk percepatan pembangunan infrastruktur daerah.
Sejak berdiri pada 1975 lalu, IDB telah memberikan komitmen bantuan kepada Indonesia sebanyak US$7 miliar, termasuk melalui skema Member Country Partnership Strategy (MCPS) dalam jangka waktu 2011-2014.
Dalam Sidang Tahunan IDB ke 41 di Jakarta pada 2016, disepakati Member Country Partnership Strategy (MCPS) jangka waktu 2016-2020 dengan komitmen senilai US$5,2 miliar. Hingga saat ini, komitmen MCPS itu baru dicairkan sebanyak US$1,5 miliar.
Dari komitmen US$5,2 miliar tersebut, di antaranya US$3,2 miliar berasal dari IDB, US$1,8 miliar berasal dari International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) dan US$200 juta dari Islamic Corporation for The Development of The Private Sector (ICD).
Komitmen MCPS ini diberikan untuk mendukung pembangunan infrastruktur fisik, pengembangan keuangan syariah yang inklusif dan pengembangan usaha serta dukungan terhadap integrasi regional yang mengacu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).