Dengan demikian, aktivitas penambangan Semen Indonesia di CAT Watuputih juga belum dapat dilakukan. Padahal, perusahaan telah membangun pabrik Rembang dan mengambil bahan baku dari Tuban untuk proses uji coba.
"Kalau begini kan pasti pengembalian investasi mereka akan tertunda dari target yang direncanakan. Pasti mempengaruhi korporasi," ungkap Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Hans menilai, kemungkinan mundurnya pengoprasian pabrik Semen Indonesia di Rembang tidak memberikan dampak signifikan terhadap keuangan perusahaan. Pasalnya, saat ini permintaan (demand) semen belum banyak meningkat ditengah melimpahnya penawaran.
"Rekomendasi tetap buy dari kami. Harga sudah mendekati target," terang Hans.
Sebelumnya, Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra menyebut, pabrik di Rembang ditargetkan dapat beroperasi mulai semester pertama tahun ini. Dia mengklaim, perusahaan telah memperoleh seluruh perizinan. Namun, pabrik belum dapat beroperasi karena masih menunggu hasil KLHS.
"Seluruh izin sudah diperoleh, izin usaha pertambangan, dan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) misalnya," jelas Rizkan.
Namun, dengan rekomendasi KLHS yang diumumkan tadi malam, otomatis pabrik di Rembang belum dapat beroperasi, menunggu KLHS tahap II. KLHS tersebut mencakup keseluruhan Pegununangan Kandeng yang melintasi tujuh kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.