Sejatinya, subsidi tertutup elpiji melon dilakukan tahun ini dengan anggaran sebesar Rp20 triliun. Namun, karena urung terlaksana dan dialihkan pada 2018 mendatang, potensinya subsidi elpiji bertambah Rp10 triliun atawa berarti menjadi Rp30 triliun.
Menteri ESDM Ignasius Jonan mengungkapkan, setidaknya, subsidi elpiji membengkak menjadi Rp30 triliun. "Jika kondisinya sama seperti sekarang, maka akhir tahun nanti subsidinya bisa menjadi Rp30 triliun," ujarnya, Kamis (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, pemerintah telah melakukan ujicoba distribusi elpiji melon tertutup di Tarakan, Kalimantan Utara. Distribusi ini dianggap akan berhasil apabila diterapkan di satu pulau. Namun, kebijakan itu akan sulit diimplementasikan untuk seluruh Indonesia.
Setelah ini, pemerintah berjanji tidak akan mengulur waktu lagi dalam menerapkan subsidi elpiji tepat sasaran. Kalau subsidi tidak dibatasi, ia memprediksi, anggaran subsidi tahun depan bisa menyentuh Rp40 triliun.
"Kalau kondisinya begini terus dan harga elpiji dunia terus meningkat, ya tentu saja subsidinya bisa bertambah. Makanya, kami berkomitmen untuk menerapkan subsidi tertutup 1 Januari 2018 mendatang. Paling lambat 1 Maret 2018 sudah dimulai," imbuh Jonan.
Sebagai informasi, volume elpiji bersubsidi di dalam APBN 2017 dipatok sebesar 7,09 juta ton, di mana angka itu lebih besar dibanding APBNP tahun 2016 sebesar 6,25 juta ton.
Selain itu, menurut Kementerian ESDM, saat ini, tabung epliji 3 kg sudah terdistribusi kepada 57 juta rumah tangga. Namun, data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) melansir hanya 25,7 juta KK yang terbilang pantas mendapatkan elpiji bersubsidi. Sehingga, seharusnya ada 31,3 juta KK yang tak bisa mendapatkan elpiji bersubsidi di tahun ini.