Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan, derasnya aliran modal asing tersebut menunjukkan masih tingginya kepercayaan investor terhadap stabilitas dan fundamental ekonomi di tanah air. Masih derasnya aliran modal tersebut juga menopang stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
"Padahal ketika Presiden AS yang baru terpilih, pasar global goyang dan banyak nilai tukar terdepresiasi besar-besaran," ujar Agus di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bandingkan dengan 2013. Saat ekonomi belum membaik, nilai tukar rupiah terdeprisiasi hingga 21 persen," ujar dia.
Disisi lain, fundamental ekonomi dalam negeri tercatat membaik ditunjukkan oleh inflasi hingga Maret 2017 yang terjaga di 3,61 persen (year on year/yoy), serta cadangan devisa yang meningkat menjadi 121 miliar dolar AS.
"Namun kita tetap harus waspada terhadap perekonomian global yang bisa memengaruhi indikator perekonomian dalam negeri," tutup Agus.