Dikutip dari detikfinance, investasi Raja Salman ke China antara lain mencakup nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan raksasa Arab Saudi, Aramco dan perusahaan China Norinco untuk pembangunan kilang di China. Kemudian, kesepakatan pengembangan proyek petrokimia antara SABIC (Saudi Basic Industries Corp) dan Sinopec.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun mengakui dirinya sedikit kecewa. Jokowi dengan sedikit bercanda, bahkan mengungkit upayanya memayungi Raja Salman saat berkunjung ke Indonesia. Padahal, Indonesia sebelumnya berharap dapat memperoleh investasi dari kunjungan tersebut sebesar US$ 25 miliar atau sekitar Rp 332 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, terdapat pula MoU terkait pendanaan Arab Saudi terhadap pembiayaan proyek pembangunan antara Saudi Fund for Development dan Pemerintah Indonesia senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,3 triliun.
"Saudi juga tentunya mengharapkan hubungan mutualisme dalam pertimbangan investasinya. Jika dibandingkan dengan Indonesia, tentu secara mutualisme China lebih menguntungkan," terang Joshua.
"China ini kan konsumen energi terbesar dunia, secara ekonomi juga terbesar kedua dunia. Apalagi Saudi juga berkepentingan dengan industri minyaknya, kondisi ekonomi di sana juga kan sedang sulit setelah turunnya harga minyak," terangnya.
Disamping faktor hubungan mutualisme, iklim investasi menurut Joshua, juga berpengaruh pada sedikitnya minat investor Arab Saudi tersebut untuk menanamkan uangnya di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, lebih kecilnya penanaman modal Arab Saudi di Indonesia disebabkan oleh karakteristik investor asal negara-negara Timur Tengah yang menyukai kepraktisan.
"Karakter investor Saudi berbeda dengan investor negara lain yang selama ini datang dan investasi besar ke Indonesia. Investor Timur Tengah umumnya lebih menyukai investasi yang instan, atau dengan kata lain tak mau repot," ungkapnya.
Dia mencontohkan, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta iklim investasinya yang stabil, membuat China lebih menarik dibandingkan Indonesia di mata pengusaha Arab Saudi. Di luar itu, kemudahan bisnis dan infrastruktur di China juga jauh lebih mapan ketimbang Indonesia.