Dikutip dari Reuters, Energy Information Administration (EIA) memprediksi produksi minyak non-konvensional akan mencapai puncak pertumbuhan produksinya dalam dua tahun terakhir. Ini menambah kekhawatiran bahwa kenaikan tersebut bisa meredam dampak dari kebijakan pembatasan produksi negara-negara produsen minyak.
Di sisi lain, kondisi pasar yang tengah positif memicu pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. Spekulan pada pekan lalu juga meningkatkan volume kontrak sehingga terjadi kelebihan beli (overbought) di pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, volume perdagangan terbilang tipis, di mana sebanyak 152 ribu kontrak Brent berjanhka dan 296 ribu kontrak WTI berjangka berpindah tangan. Angka ini hanya separuh dari aktivitas perdagangan pada hari Kamis pekan lalu.
Di sisi lain, pelaku pasar juga fokus pada dampak ketegangan geopolitik di beberapa negara terhadap harga minyak. Utamanya, tensi antara Amerika Serikat dan Korea Utara.
Wakil Presiden AS Mike Pence menperingatkan bahwa serangan AS di Suriah dan Afghanistan bisa memberi pelajaran bahwa Korea Utara jangan pernah main-main dengan Presiden Donald Trump.