"Permintaan makanan olahan dan makanan siap saji, terutama makanan beku, tumbuh pesat di Asia seiring dengan kebiasaan konsumen yang semakin sering memanfaatkan kemudahan lemari pendingin dan microwave untuk memasak," ujar Patty Johnson, analis dari Mintel Global New Products Database (GNPD) yang merupakan agensi intelijen pasar global, dalam risetnya yang dikutip Senin (24/4).
Riset yang dilakukan Mintel menunjukkan, satu dari tiga konsumen di Indonesia lebih memilih makanan yang disajikan dalam kemasan kecil karena mudah dikonsumsi kapan pun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan riset Mintel, Asia Pasifik sendiri merupakan wilayah kedua paling aktif di dunia dalam hal pengembangan produk olahan daging, unggas dan ikan pada 2016 lalu.
Indonesia saat ini merupakan pasar daging olahan dan unggas dengan pertumbuhan tercepat di dunia dengan pertumbuhan tahunan (Compound Annual Growth/CAGR) mencapai 26,7 persen antara tahun 2011 dan 2015, diikuti oleh India (22 persen), Vietnam (15,5 persen), China (13,9 persen), dan Brasil (10,9 persen).
India juga menjadi pasar ritel yang paling cepat berkembang untuk produk ikan olahan dan makanan laut secara global dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 24,9 persen pada tahun 2011 hingga 2015.
Sementara pertumbuhan pasar ikan dan olahan makanan laut Indonesia telah mencapai CAGR 19,5 persen, diikuti Turki (11,8 persen), Afrika Selatan (11,2 persen) dan Rusia (10,8 persen).
Johnson menyatakan, kenaikan produksi 18 persen pada 2016 lalu jika dibandingkan 2014, terdorong karena pengembangan inovasi, aktivitas pengolahan daging, ikan, maupun unggas.
Mintel memperkirakan, pasar daging dan unggas olahan Indonesia mencapai nilai US$1,2 miliar pada 2016, sementara India diperkirakan telah mencapai nilai US$152,4 juta. Untuk Vietnam, China dan Brasil diperkirakan nilai ritelnya masing-masing sebesar US$44,6 juta, US$39,9 miliar, dan US$3,8 miliar.
Nilai pasar China dan Brasil memang masih lebih besar jika dibandingkan dengan India dan Indonesia, namun laju pertumbuhan industri kedua negara tersebut melambat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat di negara tersebut.