Hal tersebut disampaikan Susi dalam presentasinya terkait perkembangan industri perikanan dan upaya pemerintah Indonesia menanggulangi penangkapan ikan secara ilegal pada pembukaan "6th European Tuna Conference" di Brussel, Belgia, Senin (24/4). Konferensi dihadiri lebih dari 250 peserta dari asosiasi perusahaan penangkap ikan, perusahaan pengolahan ikan dan teknologi perikanan, LSM, dan pemerintah dari negara-negara Eropa dan negara penghasil ikan utama dunia.
"Dalam praktiknya IUU fishing dilakukan bersamaan dengan kejahatan lain seperti penyelundupan manusia, obat-obatan terlarang, dan juga melibatkan praktik perbudakan modern, ujar Susi, seperti dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Susi pun mengaku, ketika ditunjuk menjadi menteri, dia meminta dukungan Presiden Joko Widodo untuk dapat menindak praktik IUU fishing secara tegas, termasuk melalui peledakan kapal penangkap ikan asing. Berkat penanganan tegas terhadap IUU fishing, Susi mengklaim, kini stok ikan di Indonesia berangsur pulih kembali
"Guna mendukung industri perikanan nasional, Indonesia sangat terbuka untuk investasi asing di bidang infrastruktur penunjang seperti cold storage dan transportasi logistik," ujarnya.
Perwakilan Uni Eropa dari Direktorat Jenderal Kelautan Stefan Depypere, yang turut membuka konferensi mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dan Menteri Susi dalam menanggulangi IUU Fishing yang patut dicontoh negara lainnya.
Adapun berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Uni Eropa tercatat sebesar US$ 404 juta.
Selain membuka konferensi, Menteri Susi dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Komisioner Kelautan dan Lingkungan Hidup Uni Eropa, Karmenu Vella, melakukan temu masyarakat Indonesia dan membuka paviliun Indonesia pada Seafood Expo Global Brussels.