Dikutip dari Reuters, harga minyak yang bergejolak utamanya masih dipengaruhi oleh sentimen kenaikan produksi minyak AS versus kebijakan pembatasan produksi organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku pasar akan memantau ketat data mingguan Energy Information Administration (EIA) yang terbit pada Rabu (26/4) pekan ini. Di samping itu, kantor berita Interfax mengabarkan, Wakil Perdana Menteri Rusia Arkady Dvokovich memberi sinyal bahwa Rusia kemungkinan akan menambah produksi minyaknya.
Meski demikian, harga West Texas Intermediate (WTI) berjangka CLc1 masih bisa terdongkrak tipis US$0,33 per barel ke angka US$49,56 per barel. Sementara itu, harga Brent berjangka LCOc1 ditutup menguat US$0,5 per barel ke angka US$52,10 per barel.