Indeks saham sektor keuangan berhasil melesat ke level 891,913, atau naik 1,75 persen. Padahal, dua minggu lalu tercatat melemah 0,09 persen ke level 876,611.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) merupakan dua emiten yang bangkit setelah mengalami keterpurukan sebelumnya. Tercatat, laba bersih Bank Mandiri naik 6,9 persen dari Rp3,8 triliun menjadi Rp4,1 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, Bank Permata berhasil membenahi kinerjanya pada awal tahun ini. Di mana perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp453 miliar, berbanding terbalik dengan sebelumnya yang menelan kerugian bersih sebesar Rp376 miliar.
BNI sendiri meraup laba bersih Rp3,23 triliun, atau naik 8,7 persen dari sebelumnya. Menurut Direktur Perencanaan dan Operasional BNI Perbankan BNI Bob T. Ananta, peningkatan tersebut didorong dari naiknya kredit perusahaan. Tercatat, penyaluran kredit BNI naik 21,4 persen menjadi Rp396,2 triliun.
Selain itu, juga ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang merilis kinerja positif. Laba bersih BCA tumbuh 10,7 persen menjadi Rp5 triliun dari Rp4,5 triliun. Sementara, BRI meraih laba bersih sebesar Rp6,47 triliun atau meningkat 5,5 persen dari Rp6,1 triliun.
"Bisa dikatakan sepanjang pekan, pelaku pasar banyak menyasar saham perbankan lapis pertama seperti BRI, BCA, BNI, dan Bank Mandiri," sambung Alfred.
Tidak hanya karena laporan keuangan kuartal pertama, ujar Alfred, kenaikan indeks sektor keuangan juga ditopang oleh pertumbuhan kredit perbankan dalam tiga bulan pertama tahun ini sebesar 9,2 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 8,7 persen.
"Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melansir pertumbuhan kredit kuartal pertama, sehingga pasar semakin percaya diri terhadap sektor perbankan," tutur Alfred.
Di sisi lain, analis Samuel Sekuritas Muhammad Al Fatih berpendapat, sektor perbankan juga mendapat dampak positif dari sentimen regional berupa pertumbuhan ekonomi China yang naik pada kuartal I 2017 sebesar 6,9 persen secara tahunan.
"Indonesia kan banyak melakukan ekspor ke China, jadi secara makro ekonomi membaik. Kalau ekonomi membaik, tentu pasar perbankan akan mendapatkan imbasnya," ucap Al Fatih.