Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Ketjuk menilai, hal ini lantaran pencabutan bebas visa tersebut diberlakukan kepada negara-negara yang kecil sumbangsihnya dalam mengalirkan kunjungan turis, bahkan kontribusinya di bawah 100 turis per bulan sehingga tak akan berdampak besar bagi Tanah Air.
Selain itu, Indonesia, lanjut Ketjuk, masih punya sumber-sumber aliran turis yang berasal dari lima negara besar, di mana China menjadi yang paling 'getol' mengirimkan warganya untuk berlibur ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati dapat asupan turis dari China dan kawan-kawan (dkk), Ketjuk menilai bahwa pemerintah tetap harus mengembangkan potensi turis dari negara-negara lain. Adapun caranya, dengan memoles destinasi wisata lokal agar kian menggoda di mata para turis.
"Kemasan dan promo (destinasi wisata) perlu dipercantik dan perlu memperkenalkan spot pariwisata yang bagus tapi belum dikenalkan. Karena pariwisata jadi tumpuan ke depan, baik dari pariwisata dan industri kreatif," jelas Ketjuk.
Pasalnya, selain sebagai bentuk promosi wisata Indonesia, hal ini akan memberi kontribusi besar pada sisi ekonomi domestik, baik kepada masyarakat di dekat destinasi wisata hingga kepada penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata.
Sementara itu, target kunjungan turis yang dicanangkan pemerintah bisa menembus angka 15 juta turis di tahun ini, masih memiliki peluang besar untuk dicapai. Sedangkan di tahun lalu, Indonesia berhasil menjaring sebanyak 11,56 juta turis.