"Kasus kontrak JICT bukan semata kepentingan pekerja atau PT Pelindo II (Persero),” kata Syaiful, dikutip Kamis (4/5).
Menurut Syaiful, pengungkapan kasus kontrak JICT sangat terkait dengan kepastian hukum investasi asing di Indonesia. Karena ia menilai perpanjangan kontrak HPI di JICT dilaksanakan tanpa ada alas hukum yang jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, Syaiful mendesak BPK untuk melakukan audit investigasi lanjutan untuk mengungkap aktor intelektual perpanjangan kontrak HPI di JICT.
Sebelumnya Serikat Pekerja JICT menolak diberikannya perpanjangan pengelolaan sebagian wilayah pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara kepada HPI.
Penolakan tersebut disampaikan dalam aksi demonstrasi yang diikuti sekitar 300 pekerja JICT di Graha Rekso, Kelapa Gading, Jakarta Utara yang menjadi kantor HPI.
BPK sendiri telah merilis laporan audit Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) Nomor 48/Auditama VII/PDTT/12/2015 tertanggal 1 Desember 2015. Dalam laporan tersebut, auditor keuangan negara menghitung pemerintah dirugikan Rp650 miliar akibat tidak optimalnya uang muka perpanjangan yang dibayarkan oleh Hutchison.
Selain itu, menurut laporan BPK, perpanjangan JICT dilaksanakan tanpa izin Menteri BUMN dan izin konsesi dari Menteri Perhubungan.
"Jelas ini preseden buruk terhadap penerapan GCG oleh investor asing di Indonesia. Untuk itu pemerintah harus membatalkan perpanjangan kontrak JICT," pungkas Nova.