Sementara di sisi lain, pemerintah hanya mengalokasikan anggaran sebesar Rp296,6 triliun untuk pos belanja barang dan Rp194,3 triliun untuk pos belanja modal.
"Kalau dari sisi neraca pemerintah pusat, belanja pegawai itu mencapai 26,1 persen dari total anggaran belanja pemerintah pusat atau seperempat anggaran dipakai untuk bayar gaji dan tunjangan bagi para birokrat," ujar Sri Mulyani dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Kepagawaian 2017 di Jakarta Convention Center, Rabu (10/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Besaran rasio tersebut, menurut Sri Mulyani, telah mengundang banyak pertanyaan masyarakat atas hasil kinerja para aparatur negara selama ini. Menurutnya, dengan porsi anggaran tersebut, seharusnya birokrat bisa lebih berinovasi dalam menjalankan desentralisasi daerah.
Pada 2017, pemerintah tercatat mengalokasikan transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp764,9 triliun atau lebih dari sepertiga total belanja negara sebesar Rp2.080,5 triliun.
Hingga kuartal pertama tahun ini, realisasi belanja pegawai juga tercatat mejadi salah satu pos belanja dengan penyerapan yang tinggi yakni mencapai Rp74 triliun atau 21,6 persen dari target. Disisi lain, belanja barang dan modal masing-masing baru mencapai Rp31,7 triliuun dan Rp11,8 triliun atau 10,7 persen dan 6,1 persen dari target.
Sementara itu, transfer ke daerah dan dana desa tercatat terserap sebesar Rp195,2 triliun atau 25,5 persen dari target.