Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati menerangkan, wilayah Papua akan memiliki dua Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) bergerak (Mobile Power Plant/MPP) sebesar 20 megawatt (MW) di Nabire dan 50 MW di Jayapura pada tahun ini.
Dengan kapasitas terpasang pembangkit (existing) sebesar 106 MW, maka total kapasitasnya nanti akan bertambah menjadi 176 MW. Saat ini, beban puncak tercatat sebesar 100 MW dari dua sistem, yakni Nabire dan Jayapura. Diperkirakan, surplus listrik mencapai 76 MW.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Maluku akan mendapatkan tambahan dua pembangkit yang beroperasi tahun ini, yaitu PLTMG MPP Ternate sebesar 30 MW dan Marine Vessel Power Plant (MVPP) di Ambon dengan kapasitas 60 MW.
"Jangan dulu untuk reserve margin, karena kan masih banyak calon pelanggan yang belum mendapatkan listrik," katanya.
Ia melanjutkan, penyediaan pembangkit di Papua dan Maluku bisa dilakukan dengan cepat karena berbentuk mobile power plant. Penyediaan mobile power plant dapat dilakukan dalam waktu kurang dari setahun atau lebih singkat dibanding membangun pembangkit berskala besar dengan jangka waktu minimal dua tahun.
"Memang, kami sengaja bangun menggunakan mobile power plant PLTMG karena lokasinya di perairan. Sehingga, secara konstruksi, pembangunannya bisa dilakukan kurang dari setahun. Kedua, ketika ada permasalahan, pembangkitnya bisa dipindahkan dengan cepat," imbuh Nicke.
Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, wilayah Maluku dan Papua akan mengalami peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar 2.100 MW selama 10 tahun mendatang. Di samping itu, transmisi sepanjang 67.627 kilometer sirkuit (kms) juga akan dibangun di kedua wilayah tersebut.
Di samping itu, dalam 10 tahun mendatang, PLN juga meramal pertumbuhan konsumsi listrik Papua dan Maluku masing-masing sebesar 10,5 persen dan 12,5 persen per tahun.