Hal ini merupakan langkah pertama di dalam kesepakatan antar anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) untuk menyokong harga minyak lebih tinggi lagi.
Dikutip dari Reuters, Menteri Energi dari kedua negara tersebut mengatakan bahwa pemangkasan produksi perlu diperpanjang selama sembilan bulan, atau sejak Juli 2017 hingga Maret 2018. Kedua menteri berharap produsen lain mau memangkas produksi dengan volume yang sama sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi minyak AS saat ini diperkirakan berada di posisi 9,31 juta barel per tahun untuk tahun ini. Akibatnya, kebijakan pemangkasan produksi OPEC sebesar 1,8 juta barel per hari sepanjang paruh pertama 2017 hanya bisa membawa harga minyak di bawah US$60 per barel.
Pelaku pasar terkejut dengan pengumuman kedua negara tersebut. Meski demikian, analis tidak sepenuhnya percaya bahwa seluruh anggota OPEC mau mengikuti kebijakan yang akan dilakukan Rusia dan Arab Saudi dalam pertemuan OPEC di Wina, Austria tanggal 25 Mei mendatang.
"Memperpanjang pembatasan produksi hingga Maret 2018 tidak sesuai dengan permintaan di kuartal pertama setiap tahunnya yang selalu lebih kecil dibanding periode lainnya. Kami ragu terkait keinginan Rusia untuk berpartisipasi aktif di perpanjangan pembatasan produksi ini," ujar Commerzbank.