Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengungkapkan keputusan tersebut sejalan dengan upaya BI untuk menjaga stabilitas makro ekonomi, sistem keuangan, dan kelanjutan perekonomian domestik.
"Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRRR tetap di 4,75 persen, suku bunga deposit facility di level 4 persen, dan suku bunga lending facility di level 5,5 persen. Ini berlaku efektif sejak 19 Mei 2017," ujar Agus saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilangsungkan pada 17-18 Mei 2017 di Gedung Thamrin BI, Kamis (18/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi domestik, BI mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik yang membaik. Hal itu tercermin dari laju perekonomian domestik pada kuartal I 2017 tumbuh 5,01 persen (year-on-year), lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, 4,92 persen.
Namun demikian, risiko kenaikan inflasi tetap membayangi akibat penyesuaian sejumlah tingkat harga yang diatur oleh pemerintah (administered price).
Kemudian, BI juga melihat hasil konsolidasi korporasi dan perbankan serta dampaknya terhadap dalam memberikan stimulus pada perekonomian.
Dari sisi eksternal, BI menilai pertumbuhan ekonomi global membaik. Hal itu terlihat dari perkembangan ekonomi di Amerika Serikat (AS), China, dan Eropa.
Kendati demikian, BI masih mewaspadai risiko pasar global yang di antaranya dipicu oleh kelanjutan rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, kebijakan fiskal dan perdagangan AS, serta perkembangan kondisi geopolitik di semenanjung Korea.
Keputusan BI sesuai dengan prediksi sejumlah ekonom. Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengungkapkan ditahannya suku bunga acuan BI masih konsisten dalam menjangkar inflasi tahun ini.
"Selain itu adjustment tarif listrik tahap 3 juga berkontribusi pada inflasi pada pertengahan tahun," kata Josua melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.
Senada dengan Josua, ekonom PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Akbar Suwardi juga meramalkan BI tetap menahan suku bunga acuannya. Dari sisi domestik, selain faktor tekanan inflasi, kebutuhan likuiditas jelang lebaran juga menjadi pertimbangan.
"Adanya kebutuhan likuiditas ketika hari raya sehingga diharapkan tidak ada kenaikan dulu karena ketika ada kebutuhan likuiditas, rate antar bank pun biasanya sudah akan meningkat," jelasnya.