Direktur Pemasaran Pertamina Mochamad Iskandar mengatakan, selama ini Pertamina memang memiliki kontrak jangka panjang (long term contract) dengan UEA, namun belum termasuk ke dalam kesepakatan antar pemerintah (Government-to-Government/G-to-G). Dengan adanya G-to-G, ia yakin Pertamina bisa mendapatkan harga yang lebih murah.
Sayangnya, ia enggan menyebut efisiensi harga yang dimaksud. "Dengan komitmen G-to-G itu juga open kan dengan market, sehingga harganya bisa murah. Angkanya saya belum punya terus terang," ujar Iskandar, Senin (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah mulai searching, belanja ke Irak dan ke negara lain, sudah mulai turun (harganya). Ini kami lakukan demi efisiensi," jelasnya.
"Untuk besaran volumenya, nanti disesuaikan dengan kebutuhan," paparnya.
Impor dilakukan karena produksi minyak Pertamina yang ditarget sebesar 181,3 juta barel masih belum cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Lebih lanjut, impor minyak mentah yang terbesar rencananya berasal dari Asia dengan besaran 60 juta barel yang disusul oleh Afrika dengan volume 54 juta barel.