Para agen Laku Pandai tersebut merupakan perpanjangan tangan bank dalam memberikan akses keuangan ke daerah pelosok guna membantu peningkatan inklusi dan literasi keuangan di Indonesia.
"Sekarang (agen Laku Pandai) masih kecil jumlahnya, yaitu masih 300 ribu," tutur Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad di Jakarta, Selasa(23/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Muliaman, agen Laku Pandai bisa menjadi pekerjaan sampingan bagi individu yang memenuhi persyaratan. Salah satunya, agen Laku Pandai harus terdaftar sebagai nasabah perbankan. Para agen Laku Pandai nantinya akan mendapatkan tambahan pendapatan (fee) dari setiap layanan Laku Pandai yang diberikan.
Ke depan, agen Laku Pandai diarahkan untuk bisa menjadi perpanjangan tangan bank untuk menyalurkan pinjaman mengingat para agen lebih mengenal calon debitur. Kendati demikian, layanan pinjaman melalui Laku Pandai menuntut kesiapan agen dan bank terutama dalam hal menajemen risiko.
"Bank harus betul-betul membangun kapasitas mengelola risiko yang baik, teknologi didukung dengan teknologi yang baik, sehingga Laku Pandai bisa diselenggarakan secara lebih efektif," ujarnya.
Perseroan pun rencananya akan meluncurkan layanan pinjaman atau pembiayaan mikro melalui agen BRILink. Agen BRIlink nantinya akan membantu pengurusan aplikasi pinjaman dari calon debitur kepada bank. Untuk itu, BRI menyiapkan pelatihan bagi agen BRILink dengan melibatkan pihak eksternal.
"Insya Allah, (layanan pinjaman) kami luncurkan bulan depan, mungkin di daerah-daerah di Jakarta dulu agar kami bisa evaluasi lebih intens," kata Suprajarto saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com.