Perubahan tersebut terjadi setelah adanya revisi ke atas untuk belanja bisnis dan konsumen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejauh ini, indikator ekonomi tidak meyakinkan akan ada kenaikan pada kuartal kedua nanti. AS harus berjuang untuk mencapai peningkatan ekonomi," ujar Scott Anderson, kepala ekonom at Bank of the West in San Francisco dilansir dari Reuters, Minggu (28/5).
Trump telah mengusulkan serangkaian langkah untuk memacu pertumbuhan lebih cepat, termasuk pemotongan pajak korporasi dan individu. Namun para analis pesimistis, lantaran stimulus fiskal dinilai bakal memicu lemahnya produktivitas dan pengurangan tenaga kerja di beberapa daerah.
"Jika ingin ekonomi tumbuh sebesar 3 persen, alangkah lebih baik bagi pebisnis untuk membelajakan uangnya untuk barang dan modal. Namun itu justru tidak terjadi," kata Joel Naroff, kepala ekonom di Naroff Economic Advisors di Holland, Pennsylvania.
Pelemahan pada kuartal pertama ini juga membuat kemungkinan Bank Sentral AS alias The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Juni menjadi menipis.