Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar berharap, lifting minyak Indonesia dapat berada diatas 800 ribu barel per hari. Kalau pun nantinya target lifting mendekati batas bawah, instansinya sudah memiliki target internal sendiri yang jauh lebih besar.
"Spiritnya kan (batas bawah) 771 ribu barel per hari, target kami inginnya lebih dari itu. Kami sebisa mungkin, sekuat tenaga memiliki target internal yang lebih dari itu," papar Arcandra, Senin (5/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, salah satu strategi yang tengah dipikirkan adalah penggunaan teknologi yang bisa meningkatkan produksi dalam waktu singkat. "Selain itu, kami juga follow up untuk masalah perizinan yang sering dibilang lama," ungkapnya.
Menurut data SKK Migas, realisasi lifting per 31 Maret 2017 hanya mencapai 787,8 ribu barel per hari atau lebih rendah sedikit 3,3 persen dibanding target APBN 2017 sebesar 815 ribu. Padahal, produksi minyak berada di angka 815,6 ribu barel per hari, atau lebih besar 0,07 persen dibanding target 815 ribu barel per hari.
"Angka (lifting) yang sudah ada sekarang ini memang yang terbaik. Namun demikian, angka ini apakah akan sama kemudian kan tergantung realita," ujar Arcandra.
Sebelumnya, seluruh fraksi DPR RI mendukung kerangka asumsi ekonomi makro yang disodorkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di dalam RAPBN 2018. Salah satunya adalah asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Prices/ICP) yang diproyeksi di kisaran US$45 sampai US$60 per barel, lifting minyak bumi di kisaran 771 ribu hingga 815 ribu barel per hari, dan gas bumi sekitar 1,1 sampai 1,2 juta barel setara minyak per hari.
Meski demikian, fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai asumsi lifting yang dipasang pemerintah dipandang stagnan atau tak memiliki perbaikan.
Untuk itu, fraksi PKS mendorong pemerintah untuk mempercepat masa transisi pengelolaan blok migas yang akan habis kontraknya dalam dua tahun mendatang.
"Hal ini menandakan bahwa upaya pemerintah dalam pengelolaan sektor migas nasional masih kurang sehingga mengalami kemunduran yang sangat signifikan dan berlangsung terus menerus serta tidak dianstisipasi dengan baik," ujar Rofi.