Direktur Pemasaran Pertamina Mohammad Iskandar menuturkan, harga keekonomian elpiji saat ini berada di kisaran Rp10.500 per kg, sementara masyarakat hanya dibebani harga sebesar Rp4.750 per kg saja. Dengan kata lain, pemerintah menombok harga elpiji bagi masyarakat sebesar Rp5.750 per kg.
"Saat ini, selisih antara harga yang diterima masyarakat dan harga keekonomiannya ini sudah terlalu jauh. Bahkan, pemerintah sebenarnya membayar subsidi yang lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk elpiji bersubsidi," jelas Iskandar ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (6/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iskandar melanjutkan, Pertamina sebetulnya tidak terpengaruh dengan peningkatan harga CP Aramco. Namun, jika harga patokan meningkat, maka beban subsidi pemerintah akan terus membengkak. Apalagi, saat ini, penggunaan elpiji melon semakin membludak.
"Meski harga naik, kami tak terpengaruh karena nanti biaya kami nanti di-reimburse pemerintah. Oleh karenanya, pagu anggaran ini yang mungkin akan sangat terpengaruh," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan bahwa pemerintah memiliki wacana untuk meningkatkan harga elpiji melon sebesar Rp1.000 per kg. Langkah ini dilakukan karena harga elpiji bersubsidi tidak naik sejak tahun 2007, atau ketika kebijakan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke LPG dimulai.
"Di dalam Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2017, DPR memandatkan bahwa pemerintah bisa meningkatkan harga elpiji sebesar RP1.000 per kg," ujar Jonan, kemarin.
Sebagai informasi, volume elpiji bersubsidi di dalam APBN 2017 dipatok sebesar 7,09 juta ton, di mana angka itu lebih besar dibanding APBNP tahun 2016 sebesar 6,25 juta ton.
Adapun menurut Kementerian ESDM, saat ini, tabung epliji 3 kg sudah terdistribusi kepada 57 juta rumah tangga. Namun, sesuai data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), hanya 25,7 juta KK yang terbilang pantas mendapatkan elpiji bersubsidi. Sehingga, seharusnya ada 31,3 juta KK yang tidak bisa mendapatkan elpiji bersubsidi di tahun ini.