Adapun sepanjang Januari-Maret 2017, pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya sebesar 4,81 persen. Dengan demikian, pemerintah membidik pertumbuhan investasi mampu meningkat hingga dua kali lipat pada tahun depan dibanding tahun ini.
"Peningkatan peringkat rating Indonesia menjadi investment grade oleh S&P diharapkan memperbaiki kepercayaan swasta dan meningkatkan aliran modal masuk ke Indonesia," ujar Sri Mulyani di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (6/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, pemerintah juga terus berupaya mengejar target perbaikan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB) dari posisi 91 di tahun lalu menjadi posisi 40 besar di tahun 2019 mendatang. Hal tersebut diharapkan dapat memicu aliran investasi yang lebih cepat ke dalam negeri.
"Dengan peningkatan investasi maka kapasitas produksi meningkat dan lapangan kerja baru dapat diciptakan," terang Sri Mulyani.
Dengan demikian, investasi dapat menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi dan menyalip konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Pada tahun depan, konsumsi rumah tangga diproyeksi mampu tumbuh mencapai 5,4 persen. Adapun sampai kuartal I 2017, pertumbuhannya baru mencapai 4,93 persen.
Sebagai informasi, dalam R-APBN 2018, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tumbuh 5,4 persen sampai 6,1 persen, inflasi 2,5 persen hingga 4,5 persen. Kemudian nilai tukar atau kurs rupiah sebesar Rp13.500 hingga Rp13.800 per dolar Amerika Serikat (AS), dan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tiga bulan sebesar 4,8 persen sampai 5,6 persen.
Sedangkan harga minyak mentah (Indonesia Crude Oil Prices/ICP) ditargetkan seharga US$45 sampai US$60per barel. Adapun lifting minyak dan gas bumi diperkirakan mencapai 1.965 sampai 2.050 ribu barel per hari (bph), dengan lifting minyak bumi sekitar 771 ribu sampai 815 ribu bph dan gas bumi sekitar 1,1 sampai 1,2 juta barel setara minyak per hari.