"Kami tahu ada beberapa sektor yang selama ini belum dioptimalkan untuk pertumbuhan ke ritel. Kami hati-hati sekali jangan sampai ini mengakibatkan Nonperforming Finance/NPF (pembiayaan bermasalah),” ujar Direktur Wholesale Banking BSM Kusman Yandi, Selasa (6/6).
Secara total, tahun ini, anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan pembiayaan baru sekitar Rp5 triliun atau menjadi Rp60,58 triliun. Target tersebut bukan isapan jempol, mengingat optimisme membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ramadan, Transaksi Kartu Kredit Melesat |
Adapun, untuk mencapai target di segmen wholesale banking, BSM akan fokus di sektor infrastruktur, plantation (kelapa sawit), lembaga pendidikan, dan rumah sakit.
"Kami hanya akan masuk ke nasabah yang punya nama baik dan yang punya nama besar. Portofolio kami tidak ada pemain baru pasti, hanya pemain lama," jelas Yandi.
Dari sisi aset, BSM menargetkan pertumbuhan di atas 12 persen di sepanjang tahun ini. Per April 2017, aset BSM telah mencapai Rp83,11 triliun naik dibandingkan posisi aset pada April 2016 sebesar Rp71,70 triliun atau tumbuh 15,91 persen.
Lihat juga:Penyaluran KPR Kembali Melambat |
DPK yang dihimpun didominasi oleh dana murah, berupa tabungan dan giro, sebanyak 53,99 persen dari total DPK. Sementara sisanya mengendap di keranjang deposito.
"Dengan dana murah, cost of fund (biaya dana) BSM akan jadi lebih murah, sehingga bisa lebih kompetitif dalam penyaluran pembiayaan," pungkasnya.